Diantara fenomena yang
terjadi dimasyarakat kita saat ini adalah keyakinan menyandarkan kesialan
kepada sesuatu seperti keyakinan adanya kesialan pada hari-hari atau tanggal
tertentu dan semisalnya, dan perkara ini dikenal dalam istilah syariat dengan
Tathoyyur atau Thiyaroh.
Pengertian Tathoyyur atau
Thiyaroh.
Tathoyyur adalah menganggap sial sesuatu dengan hal yang dilihat
maupun didengar. [1]
Berkata Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah:
ﻭﺃﺻﻞ ﺍﻟﺘﻄﻴﺮ ﺃﻧﻬﻢ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﺎﻫﻠﻴﺔ ﻳﻌﺘﻤﺪﻭﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻄﻴﺮ ﻓﺈﺫﺍ ﺧﺮﺝ ﺃﺣﺪﻫﻢ ﻷﻣﺮ ﻓﺈﻥ ﺭﺃﻯ ﺍﻟﻄﻴﺮ ﻃﺎﺭ ﻳﻤﻨﺔ ﺗﻴﻤﻦ ﺑﻪ ﻭﺍﺳﺘﻤﺮ ﻭﺃﻥ ﺭﺁﻩ ﻃﺎﺭ ﻳﺴﺮﺓ ﺗﺸﺎﺀﻡ ﺑﻪ
"Dan asal kata Tathoyyur adalah bahwa pada masyarakat
jahiliyyah mereka menjadikan Tho'ir (burung) sebagai sandaran (keyakinan), jika
mereka memiliki suatu urusan (untuk bersafar) maka mereka melepaskan burung,
jika burung tersebut terbang kearah kanan maka mereka menganggap baik dengannya
dan melanjutkan perjalanan, adapun jika mereka melihat burung tersebut terbang
kearah kiri maka mereka menganggap sial dan kembali (pulang)." [2]
Kemudian masuk dalam bentuk Tathoyyur tersebut
bukan terbatas hanya pada burung, bahkan segala hal yang diyakini bisa
mendatangkan kesialan, seperti contohnya menyandarkan kesialan pada hari tertentu
didalam pelaksanaan pernikahan atau perjalanan dst.
Adapun perbedaan antara Tathoyyur dengan
Thiyaroh adalah sebagaimana disebutkan oleh Al 'Izz bin 'Abdis Salaam
rahimahullah:
ﺍﻟﺘﻄﻴﺮ ﻫﻮ ﺍﻟﻈﻦ ﺍﻟﺴﻲﺀ ﺍﻟﺬﻱ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﻠﺐ
, ﻭﺍﻟﻄﻴﺮﺓ ﻫﻲ ﺍﻟﻔﻌﻞ ﺍﻟﻤﺮﺗﺐ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻈﻦ
"Tathoyyur adalah persangkaan jelek yang ada didalam hati,
sedangkan Thiyaroh adalah perbuatan yang dilakukan atas dasar persangkaan
tersebut." [3]
Maka keyakinan bahwa kesialan itu ada pada
seseorang atau sesuatu tertentu adalah bentuk Tathoyyur, sedangkan perbuatan
kita yang didasari keyakinan adanya kesialan tersebut kepada seseorang atau
sesuatu tertentu adalah bentuk Thiyaroh.
Contoh Tathoyyur adalah keyakinan seseorang
bahwa jika melakukan pernikahan ditanggal ganjil maka pertanda kesialan atau
kebangkrutan.
Adapun jika ia tidak melakukan pernikahan
disebabkan keyakinan tersebut maka hal tersebut disebut Thiyaroh.
Wallohu a'lam.
Dan menyandarkan kesialan terhadap sesuatu ini
adalah merupakan perkara jahiliyyah yang dilakukan oleh penentang para nabi dan
rasul terdahulu, sebagaimana Allah subhanahu wa ta'ala hikayatkan tentang
ungkapan dan tuduhan mereka kepada para rasul:
ﺇِﻧَّﺎ ﺗَﻄَﻴَّﺮْﻧَﺎ ﺑِﻜُﻢْ ﻟَﺌِﻦْ ﻟَﻢْ ﺗَﻨْﺘَﻬُﻮﺍ ﻟَﻨَﺮْﺟُﻤَﻨَّﻜُﻢْ ﻭَﻟَﻴَﻤَﺴَّﻨَّﻜُﻢْ ﻣِﻨَّﺎ ﻋَﺬَﺍﺏٌ ﺃَﻟِﻴﻢٌ
"(Mereka berkata;)
sesungguhnya kami mendapat kesialan ini karena kalian (wahai para nabi), jika
kalian tidak berhenti (memberikan peringatan) kepada kami maka sungguh kami
akan merajam kalian dan akan menyiksa kalian dengan siksaan yang pedih." [4]
Maka para rasul tersebut menjawab:
ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻃَﺎﺋِﺮُﻛُﻢْ ﻣَﻌَﻜُﻢْ ﺃَﺋِﻦْ ﺫُﻛِّﺮْﺗُﻢْ ﺑَﻞْ ﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻗَﻮْﻡٌ ﻣُﺴْﺮِﻓُﻮﻥَ
"(Para rasul menjawab;)
bahkan kesialan kalian ada bersama kalian, apakah jika kami memberikan
peringatan kepada kalian (kalian akan mendapat kesialan?), bahkan kalian adalah
kaum yang melampaui batas." [5]
Dan juga Allah subhanahu wa ta'ala berfirman
menghikayatkan ucapan Musa dan kaumnya:
ﻭَﺇِﻥْ ﺗُﺼِﺒْﻬُﻢْ ﺳَﻴِّﺌَﺔٌ ﻳَﻄَّﻴَّﺮُﻭﺍ ﺑِﻤُﻮﺳَﻰ ﻭَﻣَﻦْ ﻣَﻌَﻪُ ﺃَﻟَﺎ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻃَﺎﺋِﺮُﻫُﻢْ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠﻪ
"Dan jika mereka ditimpakan
suatu kejelekan maka merekapun menyandarkan kesialan itu kepada Musa dan
pengikutnya, ketahuilah bahwa kesialan kalian berasal dari sisi Allah." [6]
Pada ayat pertama penjelasan bahwa sebab kesialan
berupa musibah itu adalah dari ulah tangan-tangan manusia berupa kemaksiatan
dan pelanggaran terhadap syariat Allah subhanahu wa ta'ala, dan ini semisal
dengan firman Allah subhanahu wa ta'ala:
ﻭَﻣَﺎ ﺃَﺻَﺎﺑَﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﻣُﺼِﻴﺒَﺔٍ ﻓَﺒِﻤَﺎ ﻛَﺴَﺒَﺖْ ﺃَﻳْﺪِﻳﻜُﻢْ ﻭَﻳَﻌْﻔُﻮ ﻋَﻦْ ﻛَﺜِﻴﺮ
"Dan musibah apapun yang
menimpa kalian maka itu adalah akibat dari perbuatan tangan-tangan kalian
sendiri, dan Allah memaafkan kebanyakan kesalahan kalian." [7]
Dan firman-Nya:
ﻇَﻬَﺮَ ﺍﻟْﻔَﺴَﺎﺩُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺒَﺮِّ ﻭَﺍﻟْﺒَﺤْﺮِ ﺑِﻤَﺎ ﻛَﺴَﺒَﺖْ ﺃَﻳْﺪِﻱ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻟِﻴُﺬِﻳﻘَﻬُﻢ ﺑَﻌْﺾَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻋَﻤِﻠُﻮﺍ ﻟَﻌَﻠَّﻬُﻢْ ﻳَﺮْﺟِﻌُﻮﻥَ
"Telah nampak kerusakan di
daratan dan lautan dengan sebab perbuatan tangan-tangan manusia, agar Allah
menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka
mau kembali." [8]
Adapun ayat kedua maka menunjukkan bahwa
seluruh perkara yang terjadi baik kebaikan maupun kejelekan itu datang dari
sisi Allah subhanahu wa ta'ala dan atas kehendaknya.
Hukum Tathoyyur
Tathoyyur adalah perkara yang diharamkan dan
merupakan pintu dari pintu-pintu kesyirikan.
Dari 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata:
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
ﺍﻟﻄِّﻴَﺮَﺓ،ُ ﺷِﺮْﻙٌ ﺍﻟﻄِّﻴَﺮَﺓ،ُ ﺷِﺮْﻙٌ ﺍﻟﻄِّﻴَﺮَﺓُ ﺷِﺮْﻙ،ٌ
ﻭﻣﺎ ﻣِﻨَّﺎ ﺇﻻ ﻭَﻟَﻜِﻦَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳُﺬْﻫِﺒُﻪُ ﺑِﺎﻟﺘَّﻮَﻛُّﻞِ
"Thiyaroh adalah kesyirikan, Thiyaroh adalah kesyirikan,
Thiyaroh adalah kesyirikan, dan tidaklah diantara kita kecuali, akan tetapi
Allah melenyapkannya dengan ketawakkalan." [9]
Ungkapan "Dan tidaklah diantara kita
kecuali, akan tetapi Allah melenyapkannya dengan ketawakkalan" adalah
mudraj (sesuatu yang dimasukkan dalam hadits) dari ucapan 'Abdullah bin Mas'ud
radhiyallahu 'anhu sebagaimana dijelaskan oleh Ibnul Qayyim [10] dan Al
Mundziri [11].
Hal tersebut dikatagorikan sebagai kesyirikan
karena didalamnya terdapat keyakinan bahwa sesuatu tersebut bisa memberikan
manfaat atau bahaya, sehingga seakan-akan ia menjadikan bagi Allah tandingan
dalam perkara tersebut. [12]
Dan bentuk kesyirikan tersebut bisa dalam
bentuk syirik akbar jika sang pelaku berkeyakinan bahwa yang mendatangkan
manfaat dan bahaya itu adalah sesuatu tersebut.
Adapun jika ia berkeyakinan bahwa sesuatu itu
hanyalah sebab dan Allah subhanahu wa ta'ala yang mendatangkan manfaat dan
mudharat tersebut maka termasuk syirik ashghor, karena menyandarkan
sesuatu sebagai sebab padahal hal tersebut bukanlah sebab yang syar'i maupun
kauni (nyata) termasuk bentuk syirik ashghor.
Dan larangan melakukan Tathoyyur ini juga
larangan melakukan perbuatan semisalnya berupa penyadaran kejelekan kepada
sesuatu tanpa mengaitkan dengan izin Allah seperti anggapan penyakit menular
dengan sendirinya, anggapan nasib malang kepada seseorang dan semisalnya.
ﻻَ ﻋَﺪْﻭَﻯ ، ﻭَﻻَ ﻃِﻴَﺮَﺓَ ، ﻭَﻻَ ﻫَﺎﻣَﺔَ ، ﻭَﻻَ ﺻَﻔَﺮَ
"Tidak ada anggapan penularan penyakit dengan sendirinya,
tidak ada anggapan kesialan, tidak ada anggapan nasib malang, tidak ada
anggapan sial pada bulan shafar." [13]
Adapun berharap kebaikan terhadap sesuatu
ketika kita mendengar ucapan-ucapan yang baik maka bukanlah termasuk Tathoyyur
bahkan dikenal dalam istilah syariat dengan Al Fa'lu.
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
ﻻَ ﻋَﺪْﻭَﻯ ، ﻭَﻻَ ﻃِﻴَﺮَﺓَ ، ﻭَﻳُﻌْﺠِﺒُﻨِﻰ ﺍﻟْﻔَﺄْﻝُ، ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻭَﻣَﺎ ﺍﻟْﻔَﺄْﻝُ ﻗَﺎﻝَ
: ﻛَﻠِﻤَﺔٌ ﻃَﻴِّﺒَﺔٌ
"Tidak ada penularan penyakit dengan sendirinya dan tidak ada
kesialan, sedangkan Al Fa'lu membuatku takjub"
Maka para sahabat bertanya:
"Apakah itu Al Fa'lu?"
Beliau menjawab:
"Ungkapan yang baik". [14]
Hal ini seperti misalnya kita mendengar
seseorang yang namanya baik dan indah maka kita harapkan kebaikan padanya, dan
hal ini diperbolehkan karena didalam hal tersebut tidak ada bentuk penyadaran
manfaat maupun bahaya kepada makhluk bahkan didalamnya terdapat bentuk
husnudzon (berbaik sangka) kepada Allah Azza wa Jalla. [15]
Wallohu a'lam.
___________
[1] Miftahu Daris Sa'adah (3/331)
[2] Fathul Bari (2/212)
[3] 'Aunul Ma'bud (10/406)
[4] QS. Yasin: 18
[5] QS. Yasin: 19
[6] QS. Al A'raf: 131
[7] QS. Asy Syura: 30
[8] QS. Ar Rum: 41
[9] HR. Ahmad (3687) dan Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrad (909).
[10] Miftahu Daris Sa'adah (3/280)
[11] At Targhib Wat Tarhib (3/44)
[12] Fathul Bari (10/213)
[13] Muttafaqun 'alaih, dari hadits Abu Hurairah radhiyallohu
'anhu
[14] Muttafaqun 'alaih, dari hadits Anas bin Malik radhiyallahu
'anhu.
[15] Lihat Fathul Majid (2/519).
Ustadz Fauzan Abu Muhammad Al Kutawy hafidzahullah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar