Kamis, 25 Maret 2021

HUKUM-HUKUM SEPUTAR PUASA RAMADHAN (Edisi 08)


Oleh : Al Ustadz Abu Muhammad Fauzan Al Kutawy

(Lanjutan) Perkara-Perkara Yang Bisa Merusak Puasa Seseorang (Pembatal-Pembatal Puasa).

4. Muntah Dengan Sengaja

Seorang yang muntah ada dua kondisi yaitu muntah yang keluar dengan sendirinya dan muntah yang dipaksakan oleh diri agar ia muntah.

Kedua kondisi ini memiliki perbedaan hukum bagi seorang yang berpuasa sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu: bahwasanya Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ ذَرَعَهُ القَىْءٌ  فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَإِنِ اسْتَقَاءَ عَمْدا  فَلْيَقْضِ

“Barangsiapa yang terdorong muntah, maka tidak ada kewajiban qadha’ baginya, dan barangsiapa yg berusaha muntah dengan sengaja, maka hendaknya dia ganti.” [HR. Abu Daud (2380) At Tirmidzi (716) Ibnu Majah (1676),  Dan dishahihkan oleh As Syeikh  Al Albany didalam Al Irwa (923) dan Shahihul Jami'  (6243)].

Di dalam hadits ini terdapat Penjelasan bahwa seorang yang dengan sengaja berusaha untuk menjadikan dirinya muntah hingga ia muntah maka batal puasanya dan wajib baginya mengganti di hari yang lain.

Adapun seorang yang muntah tanpa unsur kesengajaan, maka tidak ada perselisihan para ulama bahwasannya hal tersebut tidaklah membatalkan puasa.

5. Haid dan Nifas

Para ulama telah bersepakat bahwasanya seorang yang haid atau nifas diharamkan baginya untuk berpuasa dan jika dia sebelumnya dalam keadaan berpuasa lalu keluar darah haid maka telah batal puasanya hingga wajib baginya mengganti dihari lainnya.

Di antara Dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam :

أَليسَ إذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ ولَمْ تَصُمْ

"Bukankah jika mereka (para wanita) haid, maka mereka  tidak melakukan  sholat dan tidak  melakukan puasa". [HR. Bukhari]

6. Al Istimna' (onani)

Al Istimna' adalah usaha untuk mengeluarkan mani selain dengan cara jima' seperti dengan menggunakan tangan, bersentuhan atau semisalnya.

Para ulama' berbeda pendapat tentang apakah istimna' (onani) itu membatalkan puasa atau tidak.

Ibnu Hazm berpendapat bahwa istimna' (onani) tidaklah membatalkan puasa walaupun dengan sengaja dengan dalil tidak ada nash (dalil tegas), ijma', ucapan para sahabat maupun qiyas yang menyebutkan hal tersebut.

Namun jumhur ulama berpendapat bahwa istimna' (onani) itu membatalkan puasa karena keluarnya mani dengan syahwat adalah perkara yang membatalkan puasa.

Adapun keluarnya mani tanpa adanya usaha untuk mengeluarkannya maka tidaklah membatalkan puasa.

Di antara dalil yang menunjukkan bahwasanya istimna' (onani)  membatalkan puasa adalah sebuah hadits Qudsi bahwa Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda;

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

يَدَعُ طَعَامَهُ وشَرابه وَشَهْوَته مِنْ أ‌جْلِيْ 

"Dia (orang yang berpuasa) itu meninggalkan makannya, minumnya dan syahwatnya karena Aku."

Dan yang dimaksud dengan syahwat di sini adalah mani.

Hal ini dikuatkan dengan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:

وَفِى بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأْتِى أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ قَالَ  أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِى حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِى الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ

"Dan pada penyaluran salah seorang diantara kalian terdapat sedekah"

Para sahabat bertanya; Ya Rasulullah Apakah salah seorang di antara kami menyalurkan syahwatnya akan mendapat pahala?

Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

"Tidakkah kalian melihat bahwasanya jika ia meletakkannya (yaitu mani) kepada yang haram, maka dia mendapat dosa? Maka demikian pula jika ia meletakkannya kepada yang halal maka ia mendapatkan pahala." [HR. Muslim (1006)]

Dalam hadits ini Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menamakan mani dengan sebutan syahwat.

Wallohu a'lam.

Bersambung...

Sabtu, 22 September 2018

MAKNA KALIMAT TAUHID (LAA ILAH ILLALLAH) -bagian 03-

Oleh : Al Ustadz Fauzan Abu Muhammad Al Kutawy hafizhahullah


Dari penjelasan yang telah lalu, maka kita bisa menyimpulkan bahwa makna yang benar dari La Ilaha Illallah adalah :

 لَا مَعْبُوْدَ بِحَقٍّ إلَّا اللّهُ

Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah subhanahu wa ta’ala.

Diantara Dalil yang menunjukkan hal ini adalah Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“Dialah Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang Al-haq (maha benar), dan apa saja yang diibadahi selain  Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah kebatilan, dan Sesungguhnya Dialah Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” [QS. Al Hajj 62]

Ayat ini menunjukkan bahwasanya adanya sembahan-sembahan selain  Allah subhanahu wa ta’ala yang diibadahi oleh orang-orang musyrik, namun sembahan-sembahan tersebut adalah sembahan-sembahan yang batil, yang tidak benar di sisi Allah Subhana waTa’ala.

 Karena sebab perkara inilah, maka orang-orang musyrik menentang Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam ketika  diseru  untuk mengucapkan Laa Ilaaha Illallohu, dan mereka mengatakan sebagaimana yang Allah firmankan:

وَقَالَ الْكَافِرُون هَٰذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ (٤) أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ (٥)

“Berkatalah orang-orang kafir: Dia adalah seorang penyihir yang pendusta, apakah ia ingin menjadikan sembahan-sembahan yang banyak menjadi satu sembahan ? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat aneh.” [QS. Shad: 4- 5]

Dan diantara makna-makna yang batil ( salah) dalam La Ilaha Illallah adalah :

1. Laa ma'buda illallah ( لا مَعْبُوْدَ إلّا اللّه)  tidak ada yang disembah kecuali Allah.

Ini adalah makna yang batil, karena mengharuskan makna bahwasanya  seluruh sembahan yang haq maupun yang batil itu adalah Allah.

2. Laa khaliq illallah ( لَا خَالِقَ إلَّا اللّهُ) tidak ada yang menciptakan kecuali Allah.

Ungkapan ini adalah ungkapan yang benar, namun dijadikan sebagai makna laa Ilaaha Illallaah adalah perkara yang salah karena hal tersebut juga diyakini  oleh orang-orang musyrik, mereka meyakini bahwasanya   Allah subhanahu wa ta’ala  satu – satunya yang mencipta, mengatur & menguasai namun hal tsb   tidaklah menyebabkan mereka masuk kedalam Islam, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan manusia hanyalah dengan tujuan untuk beribadah hanya kepada-Nya semata:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk  beribadah kepada-Ku.” [QS. Ad Dzariyat: 56]

3.  Laa Hakima illallah ( لَا حَاكِمَ إلَّا اللَّه)  tidak ada yang menghukumi  kecuali Allah.

Ini juga kalimat yang benar, karena satu-satunya Hakim yang benar hanyalah Allah, tapi hal tersebut bukan perkara yang dimaksudkan dalam makna kalimat Laa Ilaaha Illalloh.

 4.  Laa Rabba Illallah (لا رب إلا الله) Tidak ada yang mencipta, mengatur & menguasai kecuali Allah.

Ini adalah kalimat yang benar dan keyakinan yang harus diyakini setiap orang, namun menjadikan hal tersebut adalah makna kalimat Laa Ilaaha Illallohu adalah kesalahan, karena hal tersebut adalah perkara yang juga ditetapkan orang- orang kafir dizaman Nabi shalallahu alaihi wasallam.

5. Laa Maujuda Illallohu (لا موجود إلا الله) Tidak ada yang ada kecuali Allah.

Dan ini adalah makna yang paling batil dan sesat, karena kandungan ungkapan tersebut hanya mengarah kepada dua perkara :

- Bahwasanya segala sesuatu hakikatnya tidaklah ada, dan yang ada hanyalah Allah.  Ini adalah ungkapan sesat yang diketahui oleh setiap orang yang berakal.

- Tidak ada yang ada kecuali Allah berarti seluruh yang ada ini adalah Allah.
Dan ini adalah ucapan kekafiran yang paling kafir.

Dan banyak lagi tafsir - tafsir yang lainnya yang bathil yang tidak sesuai dengan apa yang disebutkan oleh para ulama salaf berdasarkan dalil dari Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Dan Tafsir yang benar pada kalimat Laa Ilaaha Illallohu adalah sebagaimana telah kita sebutkan :

 لَا مَعْبُوْدَ بِحَقٍّ إلَّا اللّه

"Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah subhanahu wa ta'ala".

Sebagaimana hal tersebut telah ditunjukkan dalam dalil-dalil yang jelas dari Al Qur'an dan Sunnah Nabi shalallahu alaihi wasallam.

Bersambung.

Rabu, 19 September 2018

CARA MENAFSIRKAN AL QUR'AN (Bagian 02)

Oleh : Al Ustadz Fauzan Abu Muhammad Al Kutawy hafizhahullah


Tafsir Al Qur'an dengan sunnah

Dari sumber penafsiran Al-Quran yang kedua adalah menafsirkan Al Qur'an dengan sunnah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam.

Karena diantara tugas para Nabi adalah untuk menyampaikan dan menjelaskan perkara yang datang dari sisi Allah subhanahu wa ta'ala, dan diantaranya adalah Al Qur'an.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

ﻭَﺃَﻧﺰَﻟْﻨَﺎ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﺍﻟﺬِّﻛْﺮَ ﻟِﺘُﺒَﻴِّﻦَ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ﻣَﺎ ﻧُﺰِّﻝَ ﺇِﻟَﻴْﻬِﻢ

"Dan Kami telah menurunkan kepada engkau (wahai Muhammad) Adz Dzikr (sunnah) agar engkau menjelaskan kepada manusia tentang segala perkara yang diturunkan kepada mereka." [QS. An Nahl: 44]

Dan Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :

ﻭَﺃَﻧﺰَﻝَ ﺍﻟﻠّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻭَﺍﻟْﺤِﻜْﻤَﺔَ ﻭَﻋَﻠَّﻤَﻚَ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﺗَﻜُﻦْ ﺗَﻌْﻠَﻢُ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻓَﻀْﻞُ ﺍﻟﻠّﻪِ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﻋَﻈِﻴﻤﺎ

"Dan Allah telah menurunkan kepada engkau (wahai Muhammad) Al Kitab (yaitu Al Qur'an) dan Al Hikmah (yaitu Sunnah), dan mengajarkan kepada engkau perkara yang tidak engkau ketahui, dan adalah keutamaan Allah yang diberikan kepadamu sangatlah besar.”  [QS. An Nisa': 113]

Dan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

ﺃﻻ ﺇﻧﻲ ﺃﻭﺗﻴﺖ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﻣﺜﻠﻪ

"Ketahuilah, sungguh aku diberikan Al Qur'an dan yang semisalnya." 

Setelah menyebutkan hadits ini, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata;

ﻭﻫﺬﺍ ﻫﻮ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺑﻼ شك

"Yang diinginkan disini adalah sunnah tanpa keraguan lagi." (Lihat At Tibyan Fii Aqsamil Qur'an:  156)

Berkata Makhul rahimahullah :

ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺃﺣﻮﺝ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ

"Al Qur'an lebih butuh terhadap Sunnah daripada kebutuhan sunnah terhadap Alquran." (Lihat Al Jami' Li Ahkamil Qur'an 1/39).

Dan penjelasan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam tentang suatu ayat adalah kebenaran mutlak yang tidak boleh ditolak.

Allah subhanahu wa ta'ala telah merekomendasi dalam firman-Nya :

ﻭَﻣَﺎ ﻳَﻨﻄِﻖُ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻬَﻮَﻯٰ ‏# ﺇِﻥْ ﻫُﻮَ ﺇِﻟَّﺎ ﻭَﺣْﻲٌ ﻳُﻮﺣَﻰٰ

"Tidaklah dia (Muhammad) itu berucap dari hawa nafsu # Namun itu adalah wahyu yang diturunkan kepadanya." [QS. An Najm: 3-4].

Diantar contoh tafsir Alquran dengan Sunnah :

Telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, dari 'Adi bin Hatim radhiyallahu 'anhu berkata; 

Tatkala turun ayat :

فكلوا واشربوا ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺘَﺒَﻴَّﻦَ ﻟَﻜُﻢُ ﺍﻟْﺨَﻴْﻂُ ﺍﻷَﺑْﻴَﺾُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺨَﻴْﻂِ ﺍﻷَﺳْﻮَﺩِ

"Maka makan dan minumlah kalian hingga nampak bagi kalian benang putih dari benang hitam." [QS. Al Baqarah: 187].

Maka aku pun mengambil ikatan benang hitam dan ikatan benang putih, lalu aku letakkan dibawah bantalku, dan aku memperhatikannya dimalam hari, namun tidak pernah nampak bagiku, maka keesokannya aku mendatangi Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam dan menceritakan hal tersebut, lalu Beliau bersabda;

ﺇﻧﻤﺎ ﺫﻟﻚ ﺳﻮﺍﺩ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﻭﺑﻴﺎﺽ النهار

"Yang dimaksud itu adalah hitam (gelap) nya malam dan putihnya siang."

Contoh lainnya diriwayatkan dari 'Uqbah bin 'Amir radhiyallahu 'anhu berkata :

Suatu hari Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam berkhutbah dan membaca ayat;

ﻭَﺃَﻋِﺪُّﻭﺍْ ﻟَﻬُﻢ ﻣَّﺎ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢ ﻣِّﻦ ﻗُﻮَّﺓٍ ﻭَﻣِﻦ ﺭِّﺑَﺎﻁِ ﺍﻟْﺨَﻴْﻞِ ﺗُﺮْﻫِﺒُﻮﻥَ ﺑِﻪِ ﻋَﺪْﻭَّ ﺍﻟﻠّﻪِ و عدوكم

"Dan persiapkanlah dari apa yang kalian mampu dari kekuatan dan dari kuda-kuda perang yang kalian pergunakan untuk memerangi musuh-musuh Allah dan musuh-musuh kalian." [QS. Al Anfal: 60]

Lalu Beliau bersabda:

 ﺃﻻ ﺇﻥ ﺍﻟﻘﻮﺓ ﺍﻟﺮﻣﻲ ، ﺃﻻ ﺇﻥ ﺍﻟﻘﻮﺓ ﺍﻟﺮﻣﻲ ، ﺃﻻ ﺇﻥ ﺍﻟﻘﻮﺓ ﺍﻟﺮﻣﻲ ‏

"Ketahuilah bahwa kekuatan disini adalah lemparan (memanah), ketahuilah bahwa kekuatan disini adalah lemparan (memanah), ketahuilah bahwa kekuatan disini adalah lemparan (memanah)."

Dan banyak lagi contoh lain tentang penafsiran Alquran dengan sunnah ini.

Bersambung.

Rabu, 16 Mei 2018

BEKAL MENGHADAPI RAMADHAN

Oleh : Al Ustadz Abu Muhammad Fauzan Al Kutawy hafizhahullah


Ibnu Rajab al Hanbali rahimahullah berkata :

شعبان كالمقدمة لرمضان

"Sya'ban Itu seperti pembukaan bagi Ramadhan"

Ibnu Umar Radhiallahu 'anhuma berkata :
“Manusia berkumpul untuk melihat Hilal (Ramadhan), Maka aku mengkhabarkan kepada Nabi bahwa saya telah melihatnya, maka Beliaupun berpuasa dan memerintahkan manusia untuk berpuasa”.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda :

جاءكم رمضان، شهر مبارك

"Telah Datang kepada kalian Ramadhan, bulan yanh penuh keberkahan".

Beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda :

من صام رمضان ايماناوحتسابا غفرله ماتقدم من ذنبه

"Barangsiapa berpuasa di ramadhan dengan iman dan ihtisab maka di ampuni dosanya yg telah lalu".

yang dimaksud di sini adalah dosa dosa kecil, adapun dosa besar tidak bisa terhapus kecuali dengan tobat.

Syaikh Abdul 'Aziz aalu Syaikh menjelaskan bahwa jika seseorang tidak memiliki dosa kecil maka kadar dosa besarnya dikurangi, dan jika dosa kecilnya tidak ada terhapus dengan amalan kebaikan dan juga tidak ada juga dosa besar sudah terhapus dengan tobat maka Shalat malam, puasanya untuk mengangkat derajatnya.

Beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda :

من حرم خيرهافقدحرم

"Barangsiapa yg diharamkan dari kebaikan Ramadhan maka dia telah diharamkan (dari kebaikan di bulan bulan lainnya)".

Jika yang dibulan ramadhan saja yang berlimpah kebaikan dan keberkahan dia tidak mendapatkan kebaikannya, terlebih lagi di bulan lain.

Dari Abu Hurairah :
Nabi naik ke atas mimbar, kemudian beliau mengatakan 'Aamiin'...'Aamiin'... 'Aamiin'...
Para sahabat bertanya : "Ya Rasulullah, Apa yang anda aminkan...?"

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda :
"Tadi Jibril mendatangiku dan berkata, 'Semoga Celaka bagi seseorang yang datang kepadanya Ramadhan, kemudian Ramadhan pergi dalam keadaan dia belum terampuni dosanya' katakan wahai Muhammad, 'Aamiin', maka saya mengatakan, 'Aamiin'

Semoga kerugian bagi seseorang yang menjumpai kedua orangtuanya tapi tidak bisa menjadi sebab baginya masuk ke surga

'Semoga kerugian bagi seseorang yang namamu di sebut di sisinya tapi dia tidak bershalawat”.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda :
"Allah berfirman, ‘Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya."

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda :
الصوم جنة
"Puasa itu perisai”.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda :

وينادى منادي : ياباغي الخيراقبل، وياباغي الشر اقصر

"Wahai yang mengharapkan kebaikan, sambutlah. Wahai yang menginginkan kejelekan tahanlah."

Ibnu Fadhl :
"Para salaf berdoa enam bulan sebelumnya agar mereka bisa mendapatkan Ramadhan".

Usamah bin Zaid berkata radhiallahu 'anhu berkata :
'Wahai Rasulullah, saya tidak pernah melihatmu bersungguh berpuasa di luar ramadhan melebihi bulan Sya'ban'
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda :
"Itu adalah bulan yang manusia lalai darinya, antara Rajab dan Ramadhan, itu adalah bulan di mana amalan amalan di angkat kepada Allah, dan saya senang kalau amalanku di angkat dalam keadaan saya berpuasa".

"Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tidak pernah berpuasa lebih banyak di luar Ramadhan kecuali di bulan Sya'ban.

Pernah suatu ketika tiga orang Shahabat radhiyallaahu ‘anhum datang bertanya kepada isteri-isteri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang peribadahan beliau. Kemudian setelah diterangkan, masing-masing ingin meningkatkan ibadah mereka.

Salah seorang dari mereka berkata :
“Adapun saya, maka sungguh saya akan puasa sepanjang masa tanpa putus.”

Shahabat yang lain ber-kata:
“Adapun saya, maka saya akan shalat malam selama-lamanya.”

Yang lain berkata,
“Sungguh saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan nikah selama-lamanya... dst”.

Ketika hal itu didengar oleh Nabi shal-lallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau keluar seraya bersabda:

أَنْتُمُ الَّذِيْنَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا؟ أَمَا وَاللهِ إِنِّي َلأَخْشَاكُمْ ِللهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، وَلَكِنِّي أَصُوْمُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّى وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي.

“Benarkah kalian telah berkata begini dan begitu? Demi Allah, sesungguhnya akulah yang paling takut kepada Allah dan paling taqwa kepada-Nya di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku ber-buka, aku shalat dan aku pun tidur, dan aku juga menikahi wanita. Maka, barangsiapa yang tidak menyukai Sunnahku, ia tidak termasuk golonganku”.

Mempersiapkan Diri Untuk Melakukan Ketaatan.

Bekal Bekal Menghadapi Ramadhan

1. Mempersiapkan Bekal Iman

Allah berfirman :
"Wahai orang orang yang beriman...".

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda :

٠ من صام رمضان ايماناوحتسابا
٠ من قام رمضان ايماناوحتسابا
٠ من قام ليلة القدرايماناوحتسابا

Ihtisab :

قال تعالى في القدسي: يدع طعمه وشربه وشهوته من اجلي

"Allah Ta'ala berfirman sebagaimana dalam hadits qudsy :
"(orang yang berpuasa) telah meninggalkan makannya dan minumnya dan syahwatnya untukku".

2. Membekali diri dengan Ilmu.

Rasulullah pernah keluar di Bulan Ramadhan Fathul Makkah dan singgah di suatu tempat dan minum, sehingga para sahabat ikut berbuka dan sebagian tetap berpuasa sehingga mereka keletihan, maka hal ini disampaikan kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, maka Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda : "mereka itu telah bermaksiat 3x".

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda :

ليس من البر الصيام في السفر

"Bukanlah suatu kebaikan berpuasa ketika safar".

Faidah :

- Orang yang bersafar dalam keadaan meletihkan dan membahayakan dirinya maka haram baginya berpuasa.

- Jika meletihkan tapi tidak sampai membahayakan dirinya maka lebih utama tidak berpuasa.

Adi bin Hatim, ketika beliau melihat ayat :
'Makan dan minumlah kalian sampai jelas antara benang putih dan hitam dari waktu Fajar', maka beliau mengambil benang hitam putih.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda :
"Bukan itu maksudnya, yang di maksud adalah gelapnya malam dan putihnya siang".

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata : Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam memiliki dua mu'adzin.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda :

ان بلالا يؤذن بليل فكلواوشربواحتى يؤذن بن ام مكتوم

"Sesungguhnya Bilal adzan ketika masih gelap, maka makan dan minumlah kalian sampai Ibnu Ummi Maktum adzan".

Dan waktunya tidak lama, sewaktu turunnya Bilal dan naiknya Ibnu Ummi Maktum ke tempat Adzan.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda :

من صام يوم يشك فيه فقد عاصى ابالقاسم

"Barang siapa yang berpuasa di hari yang masih meragukan maka dia telah bermaksiat kepada Rasulullah".

3. Mempersiapkan Taqwa.

Allah berfirman :
"Berbekallah kalian, dan sebaik baik bekal adalah Taqwa".

Allah juga berfirman :

انمايتقبل الله من المتقين

"Allah hanyalah menerima dari orang orang yang bertaqwa"

Allah berfirman berkaitan dengan puasa :
"Agar kalian bertaqwa".

Taqwa : "Melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah"

Berkata Ibnu Qudamah rahimahullah;

 "للـصــوم ثـلـاث مــراتــب:
صــوم العـمــوم،
وصـوم الخـصــوص،
وصـوم خـصــوص الخـصــوص.
 فأمـا صـوم العـمــوم فـهـو:
كـف البـطــن والـفــرج عـن قـضـاء الشـهــوة.
 وأمــا صــوم الخـصـوص:
فـهـو كـف الـنظــر، واللسـان، والـيـد، والـرجـل، والسـمــع، والبـصــر، وسـائــر الجــوارح عـن الآثــام.
 وأمـا صـوم خصـوص الخـصـوص فهـو:
صـوم القـلــب عـن الهـمــم الدنيـئــة، والأفـكــار المـبـعـدة عـن اللّٰه".

"Pada puasa ada tiga tingkatan;

1. Puasa umum
2. Puasa khusus
3. Puasa yang paling terkhusus

▪ Adapun puasa umum adalah menahan perut dan kemaluan dari memenuhi  syahwatnya

▪ Adapun puasa khusus adalah menahan pandangan, lisan, tangan, kaki, pendengaran, penglihatan dan anggota badan lainnya dari dosa-dosa

▪ Adapun puasa paling terkhusus adalah berpuasanya hati dari keinginan-keinginan rendahan serta pikiran-pikiran yang menjauhkan dari Allah -azza wa jalla”. [Mukhtashar Minhajil Qashidin (44)].

4. Mempersiapkan Kesabaran

Rasulullah  Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda :
"Bulan Ramadhan adalah Bulan Kesabaran".

Datang seorang laki-laki yang sudah lama tidak berjumpa dengan Nabi dengan pemampilan yang sangat berbeda dengan sebelumnya sampai sampai Nabi tidak mengenalnya.

Dia bertanya :
"Ya Rasulullah apakah anda tidak mengenal saya".

Rasulullah berkata :
"siapa engkau".

Orang tersebut berkata :
"Saya al Bahili, yang pernah bertemu dengan engkau setahun lalu".

Rasulullah bersabda :
"Apa yang menyebabkan kamu berubah, padahal dulu engkau seorang yang baik penampilannya?"

Dia berkata :
"Saya tidak pernah makan sejak saya berpisah denganmu wahai Rasulullah kecuali Malam hari".

Rasulullah bersabda :
"Engkau telah menyiksa dirimu sendiri, kamu berpuasa saja pada bulan kesabaran".

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin Berkata :
"Ketika seseorang berpuasa maka dia telah bersabar di atas tiga bentuknya".

Allah Ta'ala berfirman :

انمايوفى الصابرون اجرهم بغير حساب

"Hanya saja ora ng yang bersabar itu diberi balasan tanpa batas".

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : جاء رجل إلي النبي صلي الله عليه و سلم فقال : هلكت يا رسول الله, قال : ((وما أهلكك؟ قال : وقعت علي امرتي في رمضان.فقال : ((هل تجد ما تعتق رقبة؟)) قال: لا, قال : ((فهل تستيع أن تصوم شهرينمتتابعين؟)) قال : لا, قال : ((فهل تجد ما تطعم ستين مسكينا؟)) قال : لا, ثم جلس,فأتي النبي صلى الله عليه و سلم بعرق فيه تمر, فقال: ((تصدق بهاذا)) فقال "أعلى أفقر منا؟! فما بين لابتيها أهل بيت أوحج إليه منا, فضحك النبي صلي الله عليهو سلم حتي بدت أنيابه: ثم قال ((اذهب فأطعم أهلك)) رواه السبعة, و اللفظ لمسلم.

Dari Abu Hurairoh rodhiyallahu 'anhu, dia berkata,

"Seorang lelaki datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lelaki tersebut mengadu, "Celaka saya wahai Rasulullah", beliau bertanya,

"Apa yang mencelakakanmu?",

dia menjawab, "saya telah menyetubuhi istri saya di (siang) bulan Ramadhan",

lantas beliau bertanya, "Apakah kamu bisa membebaskan seorang budak?",

dia menjawab, "Tidak",

lalu beliau bertanya lagi, "Apakah kamu mampu shaum dua bulan berturut-turut?",

dia menjawab, "Tidak".

Beliau bertanya lagi, "Apakah kamu bisa memberi makan 60 orang miskin?",

dia menjawab, "Tidak".

Kemudian beliau duduk. Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dibawakan senampan kurma. Lalu beliau memerintahkan lelaki tersebut, "bersedekahlah dengan ini",

dia menyangkal,"Apakah ada orang yang lebih fakir daripada kami?" Tidak ada di Madinah (-pent)ini yang lebih membutuhkannya daripada kami.

Maka nabi shallallahu 'alaihi wasallam tertawa sambai kelihatan gigi taring beliau. Kemudian beliau memerintahkan, "pergilah, dan berilah kurma ini untuk keluargamu". [Diriwayatkan oleh Imam yang tujuh (sab'ah)].

Asal dalam syariat islam adalah kemudahan termasuk dalam puasa.

Allah Ta'ala berfirman :

يريد الله بكم اليسر ولا يريد بكم العسر

Syaikh Abdul Muhsin al 'Abbad :

من كان لله تقيا كان شهوته قويا

"Barangsiapa yang makin bertaqwa kepada Allah maka syahwatnya makin kuat".

Rasulullah  Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda :
"Jika seseorang di antara kalian sedang berpuasa, janganlah berbuat sia sia dan banyak berdebat, jika ada yang mencela dan mengajaknya berkelahi, maka hendaklah dia berkata : 'saya sedang berpuasa”.

5. Bekal Mujaahadah (Kesungguhan).

Allah Ta'ala berfirman :
"Siapa yang bersungguh sungguh di jalan kami, niscaya kami tunjukkan dia jalan jalan kami".

Aisyah berkata :
"Adalah Nabi bersungguh sungguh di Ramadhan, apa yang beliau tidak pernah melakukan kesungguhan semisalnya di luar Ramadhan". [HR. Tirmidzi].

Pernah suatu ketika tiga orang Shahabat radhiyallaahu ‘anhum datang bertanya kepada isteri-isteri Nabi shal-lallaahu ‘alaihi wa sallam tentang peribadahan beliau. Kemudian setelah diterangkan, masing-masing ingin meningkatkan ibadah mereka. Salah seorang dari mereka berkata: “Adapun saya, maka sungguh saya akan puasa sepanjang masa tanpa putus.” Shahabat yang lain ber-kata: “Adapun saya, maka saya akan shalat malam selama-lamanya.” Yang lain berkata, “Sungguh saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan nikah selama-lamanya... dst” Ketika hal itu didengar oleh Nabi shal-lallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau keluar seraya bersabda:

أَنْتُمُ الَّذِيْنَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا؟ أَمَا وَاللهِ إِنِّي َلأَخْشَاكُمْ ِللهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، وَلَكِنِّي أَصُوْمُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّى وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي.

“Benarkah kalian telah berkata begini dan begitu? Demi Allah, sesungguhnya akulah yang paling takut kepada Allah dan paling taqwa kepada-Nya di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku ber-buka, aku shalat dan aku pun tidur, dan aku juga menikahi wanita. Maka, barangsiapa yang tidak menyukai Sunnahku, ia tidak termasuk golonganku”. [Bukhari - Muslim]

Ibnu Abbas berkata :
"Adalah Nabi orang yang paling dermawan dan kedermawanan beliau makin bertambah di bulan Ramadhan ketika bertemu Jibril, dan adalah Jibril berjumpa Nabi setiap malamnya di bulan Ramadhan dan mengajarkan al Qur'an". [Bukhari Muslim].

Syaikh Albany rahimahullah berkata :
"Mengkhususkan membaca al Qur'an di bulan Ramadhan meninggalkan ibadah sunnah lainnya adalah amalan yang tidak ada asalnya dalam sunnah, yang ada asalnya dalam sunnah dan dikenal dalam Shahihain adalah memperbanyak membaca al Qur'an di bulan Ramadhan".

Adapun yang diriwayatkan dari Malik, Az Zuhri bahwa mereka meninggalkan ibadah lainnya maka riwayat ini ada kelemahan di dalamnya. Kalaupun demikian maka mereka membaca al Qur'an disertai tadabbur.

6. Merasa diawasi oleh Allah.

Allah berfirman :
"Tidak ada tersembunyi daripada-Nya sebesar zarrahpun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)".

7. Jujur

Rasulullah bersabda :

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan”.  [HR. Bukhari no. 1903].

8. Bersegera Untuk Bertaubat

Rasulullah shallallau alaihi wa sallam bersabda :
"Demi Allah, sesungguhnya saya beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali".
Dalam riwayat lain disebutkan "100 kali".


____________________
Diringkas dari Muhadharah Berjudul : Bekal-Bekal Menyambut Ramadhan
Di Masjid Nurul Hidayah Bontoramba Makassar 25 Sya'ban 1436 H
Diringkas Oleh Abu Shafiyyah al Marusi dan di Muraja'ah ulang oleh Al Ustadz Fauzan al Kutawy