Rabu, 19 September 2018

CARA MENAFSIRKAN AL QUR'AN (Bagian 02)

Oleh : Al Ustadz Fauzan Abu Muhammad Al Kutawy hafizhahullah


Tafsir Al Qur'an dengan sunnah

Dari sumber penafsiran Al-Quran yang kedua adalah menafsirkan Al Qur'an dengan sunnah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam.

Karena diantara tugas para Nabi adalah untuk menyampaikan dan menjelaskan perkara yang datang dari sisi Allah subhanahu wa ta'ala, dan diantaranya adalah Al Qur'an.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

ﻭَﺃَﻧﺰَﻟْﻨَﺎ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﺍﻟﺬِّﻛْﺮَ ﻟِﺘُﺒَﻴِّﻦَ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ﻣَﺎ ﻧُﺰِّﻝَ ﺇِﻟَﻴْﻬِﻢ

"Dan Kami telah menurunkan kepada engkau (wahai Muhammad) Adz Dzikr (sunnah) agar engkau menjelaskan kepada manusia tentang segala perkara yang diturunkan kepada mereka." [QS. An Nahl: 44]

Dan Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :

ﻭَﺃَﻧﺰَﻝَ ﺍﻟﻠّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻭَﺍﻟْﺤِﻜْﻤَﺔَ ﻭَﻋَﻠَّﻤَﻚَ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﺗَﻜُﻦْ ﺗَﻌْﻠَﻢُ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻓَﻀْﻞُ ﺍﻟﻠّﻪِ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﻋَﻈِﻴﻤﺎ

"Dan Allah telah menurunkan kepada engkau (wahai Muhammad) Al Kitab (yaitu Al Qur'an) dan Al Hikmah (yaitu Sunnah), dan mengajarkan kepada engkau perkara yang tidak engkau ketahui, dan adalah keutamaan Allah yang diberikan kepadamu sangatlah besar.”  [QS. An Nisa': 113]

Dan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

ﺃﻻ ﺇﻧﻲ ﺃﻭﺗﻴﺖ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﻣﺜﻠﻪ

"Ketahuilah, sungguh aku diberikan Al Qur'an dan yang semisalnya." 

Setelah menyebutkan hadits ini, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata;

ﻭﻫﺬﺍ ﻫﻮ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺑﻼ شك

"Yang diinginkan disini adalah sunnah tanpa keraguan lagi." (Lihat At Tibyan Fii Aqsamil Qur'an:  156)

Berkata Makhul rahimahullah :

ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺃﺣﻮﺝ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ

"Al Qur'an lebih butuh terhadap Sunnah daripada kebutuhan sunnah terhadap Alquran." (Lihat Al Jami' Li Ahkamil Qur'an 1/39).

Dan penjelasan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam tentang suatu ayat adalah kebenaran mutlak yang tidak boleh ditolak.

Allah subhanahu wa ta'ala telah merekomendasi dalam firman-Nya :

ﻭَﻣَﺎ ﻳَﻨﻄِﻖُ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻬَﻮَﻯٰ ‏# ﺇِﻥْ ﻫُﻮَ ﺇِﻟَّﺎ ﻭَﺣْﻲٌ ﻳُﻮﺣَﻰٰ

"Tidaklah dia (Muhammad) itu berucap dari hawa nafsu # Namun itu adalah wahyu yang diturunkan kepadanya." [QS. An Najm: 3-4].

Diantar contoh tafsir Alquran dengan Sunnah :

Telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, dari 'Adi bin Hatim radhiyallahu 'anhu berkata; 

Tatkala turun ayat :

فكلوا واشربوا ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺘَﺒَﻴَّﻦَ ﻟَﻜُﻢُ ﺍﻟْﺨَﻴْﻂُ ﺍﻷَﺑْﻴَﺾُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺨَﻴْﻂِ ﺍﻷَﺳْﻮَﺩِ

"Maka makan dan minumlah kalian hingga nampak bagi kalian benang putih dari benang hitam." [QS. Al Baqarah: 187].

Maka aku pun mengambil ikatan benang hitam dan ikatan benang putih, lalu aku letakkan dibawah bantalku, dan aku memperhatikannya dimalam hari, namun tidak pernah nampak bagiku, maka keesokannya aku mendatangi Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam dan menceritakan hal tersebut, lalu Beliau bersabda;

ﺇﻧﻤﺎ ﺫﻟﻚ ﺳﻮﺍﺩ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﻭﺑﻴﺎﺽ النهار

"Yang dimaksud itu adalah hitam (gelap) nya malam dan putihnya siang."

Contoh lainnya diriwayatkan dari 'Uqbah bin 'Amir radhiyallahu 'anhu berkata :

Suatu hari Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam berkhutbah dan membaca ayat;

ﻭَﺃَﻋِﺪُّﻭﺍْ ﻟَﻬُﻢ ﻣَّﺎ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢ ﻣِّﻦ ﻗُﻮَّﺓٍ ﻭَﻣِﻦ ﺭِّﺑَﺎﻁِ ﺍﻟْﺨَﻴْﻞِ ﺗُﺮْﻫِﺒُﻮﻥَ ﺑِﻪِ ﻋَﺪْﻭَّ ﺍﻟﻠّﻪِ و عدوكم

"Dan persiapkanlah dari apa yang kalian mampu dari kekuatan dan dari kuda-kuda perang yang kalian pergunakan untuk memerangi musuh-musuh Allah dan musuh-musuh kalian." [QS. Al Anfal: 60]

Lalu Beliau bersabda:

 ﺃﻻ ﺇﻥ ﺍﻟﻘﻮﺓ ﺍﻟﺮﻣﻲ ، ﺃﻻ ﺇﻥ ﺍﻟﻘﻮﺓ ﺍﻟﺮﻣﻲ ، ﺃﻻ ﺇﻥ ﺍﻟﻘﻮﺓ ﺍﻟﺮﻣﻲ ‏

"Ketahuilah bahwa kekuatan disini adalah lemparan (memanah), ketahuilah bahwa kekuatan disini adalah lemparan (memanah), ketahuilah bahwa kekuatan disini adalah lemparan (memanah)."

Dan banyak lagi contoh lain tentang penafsiran Alquran dengan sunnah ini.

Bersambung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar