Tafsir Al Qur'an dengan sunnah
Dari sumber penafsiran Al-Quran
yang kedua adalah menafsirkan Al Qur'an dengan sunnah Rasulullah shalallahu
'alaihi wa sallam.
Karena diantara tugas para Nabi
adalah untuk menyampaikan dan menjelaskan perkara yang datang dari sisi Allah
subhanahu wa ta'ala, dan diantaranya adalah Al Qur'an.
Allah subhanahu wa ta'ala
berfirman:
ﻭَﺃَﻧﺰَﻟْﻨَﺎ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﺍﻟﺬِّﻛْﺮَ ﻟِﺘُﺒَﻴِّﻦَ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ﻣَﺎ ﻧُﺰِّﻝَ ﺇِﻟَﻴْﻬِﻢ
"Dan Kami telah
menurunkan kepada engkau (wahai Muhammad) Adz Dzikr (sunnah) agar engkau
menjelaskan kepada manusia tentang segala perkara yang diturunkan kepada
mereka." [QS. An Nahl: 44]
Dan Allah subhanahu wa ta'ala
berfirman :
ﻭَﺃَﻧﺰَﻝَ ﺍﻟﻠّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻭَﺍﻟْﺤِﻜْﻤَﺔَ ﻭَﻋَﻠَّﻤَﻚَ ﻣَﺎ
ﻟَﻢْ ﺗَﻜُﻦْ ﺗَﻌْﻠَﻢُ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻓَﻀْﻞُ ﺍﻟﻠّﻪِ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﻋَﻈِﻴﻤﺎ
"Dan Allah telah
menurunkan kepada engkau (wahai Muhammad) Al Kitab (yaitu Al Qur'an) dan Al
Hikmah (yaitu Sunnah), dan mengajarkan kepada engkau perkara yang tidak engkau
ketahui, dan adalah keutamaan Allah yang diberikan kepadamu sangatlah besar.” [QS. An Nisa': 113]
Dan Rasulullah shalallahu alaihi
wasallam bersabda:
ﺃﻻ ﺇﻧﻲ ﺃﻭﺗﻴﺖ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﻣﺜﻠﻪ
"Ketahuilah, sungguh aku
diberikan Al Qur'an dan yang semisalnya."
Setelah menyebutkan hadits ini,
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata;
ﻭﻫﺬﺍ ﻫﻮ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺑﻼ شك
"Yang diinginkan disini
adalah sunnah tanpa keraguan lagi." (Lihat At Tibyan Fii Aqsamil Qur'an: 156)
Berkata Makhul rahimahullah :
ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺃﺣﻮﺝ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ
"Al Qur'an lebih butuh
terhadap Sunnah daripada kebutuhan sunnah terhadap Alquran." (Lihat Al
Jami' Li Ahkamil Qur'an 1/39).
Dan penjelasan Rasulullah
Shalallahu 'alaihi wa sallam tentang suatu ayat adalah kebenaran mutlak yang
tidak boleh ditolak.
Allah subhanahu wa ta'ala telah
merekomendasi dalam firman-Nya :
ﻭَﻣَﺎ ﻳَﻨﻄِﻖُ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻬَﻮَﻯٰ # ﺇِﻥْ ﻫُﻮَ ﺇِﻟَّﺎ ﻭَﺣْﻲٌ ﻳُﻮﺣَﻰٰ
"Tidaklah dia (Muhammad)
itu berucap dari hawa nafsu # Namun itu adalah wahyu yang diturunkan
kepadanya." [QS. An Najm: 3-4].
Diantar contoh tafsir Alquran
dengan Sunnah :
Telah diriwayatkan oleh Imam
Bukhari dan Muslim, dari 'Adi bin Hatim radhiyallahu 'anhu berkata;
Tatkala turun ayat :
فكلوا واشربوا ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺘَﺒَﻴَّﻦَ ﻟَﻜُﻢُ ﺍﻟْﺨَﻴْﻂُ ﺍﻷَﺑْﻴَﺾُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺨَﻴْﻂِ
ﺍﻷَﺳْﻮَﺩِ
"Maka makan dan minumlah
kalian hingga nampak bagi kalian benang putih dari benang hitam." [QS.
Al Baqarah: 187].
Maka aku pun mengambil ikatan
benang hitam dan ikatan benang putih, lalu aku letakkan dibawah bantalku, dan
aku memperhatikannya dimalam hari, namun tidak pernah nampak bagiku, maka
keesokannya aku mendatangi Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam dan menceritakan
hal tersebut, lalu Beliau bersabda;
ﺇﻧﻤﺎ ﺫﻟﻚ ﺳﻮﺍﺩ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﻭﺑﻴﺎﺽ النهار
"Yang dimaksud itu adalah
hitam (gelap) nya malam dan putihnya siang."
Contoh lainnya diriwayatkan dari
'Uqbah bin 'Amir radhiyallahu 'anhu berkata :
Suatu hari Rasulullah shalallahu
'alaihi wa sallam berkhutbah dan membaca ayat;
ﻭَﺃَﻋِﺪُّﻭﺍْ ﻟَﻬُﻢ ﻣَّﺎ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢ ﻣِّﻦ ﻗُﻮَّﺓٍ ﻭَﻣِﻦ ﺭِّﺑَﺎﻁِ ﺍﻟْﺨَﻴْﻞِ
ﺗُﺮْﻫِﺒُﻮﻥَ ﺑِﻪِ ﻋَﺪْﻭَّ ﺍﻟﻠّﻪِ و عدوكم
"Dan persiapkanlah dari
apa yang kalian mampu dari kekuatan dan dari kuda-kuda perang yang kalian
pergunakan untuk memerangi musuh-musuh Allah dan musuh-musuh kalian." [QS.
Al Anfal: 60]
Lalu Beliau bersabda:
ﺃﻻ ﺇﻥ ﺍﻟﻘﻮﺓ ﺍﻟﺮﻣﻲ
، ﺃﻻ ﺇﻥ ﺍﻟﻘﻮﺓ ﺍﻟﺮﻣﻲ ، ﺃﻻ ﺇﻥ ﺍﻟﻘﻮﺓ ﺍﻟﺮﻣﻲ
"Ketahuilah bahwa kekuatan
disini adalah lemparan (memanah), ketahuilah bahwa kekuatan disini adalah
lemparan (memanah), ketahuilah bahwa kekuatan disini adalah lemparan
(memanah)."
Dan banyak lagi contoh lain
tentang penafsiran Alquran dengan sunnah ini.
Bersambung.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar