• Kelezatan ilmu.
Berkata Syeikhul Islam Ibnu
Taimiyyah -rahimahullah-:
ولا ريب أن لذة العلم أعظم اللذات، و اللذة التي تبقى بعد الموت وتنفع
في الآخرة هي لذة العلم بالله والعمل له وهو الإيمان به
“Dan tidak diragukan lagi
bahwa kelezatan ilmu adalah sebesar-besar kelezatan, dan kelezatan yang terus
dirasakan hingga setelah kematian, dan bermanfaat diakhirat, yaitu kelezatan
berilmu tentang Allah dan beramal kepada-Nya serta beriman dengan-Nya.” [Majmu' Al Fatawa (14/162)].
• Tanpa ilmu maka akan menjadi
rendah.
Berkata Ahnaf bin Qais
-rahimahullah-;
كل عز لم يؤيد بعلم فإلى ذل يصير
“Setiap kemuliaan yang tidak
dikuatkan dengan ilmu maka akan berujung pada kerendahan”. [Riwayat Ad
Dainury dlm Al Mujalasah (5/97)].
• Majelis ilmu &
pengaruhnya bagi hati.
Berkata Syeikh 'Abdul 'Aziz bin
Baaz -rahimahullah-:
فإن الإنسان إذا كان لا يحضر حلقات العلم، ولا يسمع الخطب، ولا يعتني
بما ينقل عن أهل العلم فإنه يزداد غفلة، وربما يقسو قلبه حتى يطبع عليه، ويختم عليه
فيكون من الغافلين
“Sesungguhnya seseorang jika
tidak menghadiri majelis ilmu dan enggan mendengarkan ceramah-ceramah serta
tidak perhatian dengan nukilan dari para ulama maka bertambahlah kelalaiannya,
dan kadang hatinya menjadi keras hingga terkunci dan tertutup dengannya sehingga
iapun menjadi termasuk orang-orang yang lalai”. [Majmu' Fatawa Ibni Baaz
hal. 324].
• Jika ilmu dan ulama telah
ditinggalkan.
Berkata Muhammad bin Sirin
-rahimahullah-;
« إن قـومًا تركوا طلب الـعلم ومجـالسة العلماء ، و أخذوا في الصلاة والصيام
حتى يبس جلد أحدهم على عظـمه ، ثم خالـفوا السنّـة فهلكوا ، و سفكوا دماء المسلمين
، فوالذي لا إله غيره ، ما عمل أحد عملاً على جهل إلا كان يفسد أكثر مما يصلح »
“Sungguh ada suatu kaum yang
mereka meninggalkan menuntut ilmu dan menyibukkan diri dengan shalat dan puasa
hingga kulit tubuh salah seorang mereka mengering ditulang tubuhnya, lalu
mereka menyelisihi sunnah dan binasa, dan menumpahkan darah kaum muslimin.
Maka demi Dzat yang tidak ada
sembahan yang benar kecuali Dia, tidaklah seseorang beramal dengan suatu amalan
diatas kebodohan kecuali kerusakannya akan lebih banyak dari pada perbaikannya”.
[Al Istidzkar Libni 'Abdil Barr (8/616)].
• Jangan kikir terhadap ilmu.
Berkata As Sa'dy -rahimahullah-;
من شح بعلمه مات علمه بموته و ربما نسيه وهو حي كما أن من بث علمه كان
حياة ثانية وحفظاً لما علمه وجازاه الله من جنس عمله
“Barangsiapa yang kikir
terhadap ilmunya maka ilmunya telah mati dengan kematiannya dan kadang ia
melupakannya dalam keadaan dia hidup, dan sebagaimana barangsiapa yang
menyebarkan ilmunya maka ia berada dikehidupan yang kedua dan hafal terhadap
ilmunya serta Allah akan memberikan balasan yang sesuai dengan jenis
amalannya.” [Al Fatawa (400)].
• Jalan menuju keutamaan.
Berkata Rabi'ah -rahimahullah-;
العلم وسيلة إلى كل فضيلة
“Ilmu adalah wasilah kepada
setiap keutamaan”. [As Siyar (6/90)].
• Mintalah ilmu yang
bermanfaat.
Dari Jabir bin Abdillah
-radhiyallahu 'anhu-; Rasulullah -shalallahu 'alaihi wa sallam- bersabda:
«سلوا اللّه علما
نافعا، وتعوّذوا باللّه من علم لا ينفع»
“Mintalah kepada Allah ilmu
yang bermanfaat, dan berlindunglah kalian kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat.” [HR.
Ibnu Majah (3843)].
• Kokohkan agama dengan ilmu.
Berkata Ibnu Syihhab
-rahimahullah-;
كان من مضى من علمائنا يقولون: الإعتصام بالسنة نجاة والعلم يقبض قبضا
سريعا فنعش العلم ثبات الدين والدنيا وفي ذهاب العلم ذهاب ذلك كله
“Adalah para ulama kami
terdahulu mengatakan; Barangsiapa yang berpegang teguh dengan sunnah maka ia
pasti selamat, dan ilmu itu tercabut dengan cepatnya, dan dengan hidupnya ilmu
maka kokohlah agama dan dunia kita, dan dengan lenyapnya ilmu maka lenyap pula
seluruh hal tersebut”. [Riwayat Ad Darimy (97)].
• Usaha untuk memalingkan
manusia dari ilmu.
Berkata Ibnul Jauzy
-rahimahullah-:
"اعلم أن أول تلبيس إبليس على الناس صدهم عن العلم؛ لأن العلم نور فإذا أطفأ مصابيحهم خبطهم في الظلام كيف شاء."
“Ketahuilah, bahwasanya
diantara tipu daya iblis terhadap manusia adalah dengan cara memalingkan mereka
dari ilmu, karena ilmu itu adalah cahaya, sehingga jika ia memadamkan
lenteranya maka ia akan menyeret mereka kepada kegelapan sesuai keinginannya.” [Talbis
Iblis (1/289)].
• Fitnah seorang alim yang
fajir.
Berkata Sufyan Ats Tsaury
-rahimahullah-;
تعوذوا بالله من فتنة العابد الجاهل وفتنة العالم الفاجر، فإن فتنتهما
فتنة لكل مفتون
“Berlindunglah kalian kepada
Allah dari fitnah seorang ahli ibadah yang bodoh, dan dari seorang 'alim yang
fajir, karena fitnah keduanya adalah fitnah bagi setiap orang yang terfitnah”. [Riwayat
Ibnul Mubarok dlm Az Zuhud (18), Al Ajurry dlm Akhlaqul 'Ulama (108) dan Ibnu
'Abdil Barr dlm Al Jami' (1/666) dengan sanad yang shahih].
• Terangkatnya ilmu.
Dari Abu Musa -radhiyallahu
'anhu-; Rasulullah -shalallahu 'alaihi wa sallam- bersabda:
إن بين يدي الساعة لأياما ينزل فيها الجهل ويرفع فيها العلم ويكثر الهرج
، أي القتل
“Sungguh diantara hari kiamat
akan ada hari-hari yang turun padanya kebodohan, diangkat padanya ilmu, dan
banyak pembunuhan”. [HR. Bukhari (7062) dan Muslim (2672)].
• Kemaksiatan adalah
penghalang masuknya ilmu.
Berkata Ibnul Qoyyim
-rahimahulloh-:
"وللمعاصي من الآثار القبيحة المذمومة المُضِرّة بالقلب والبدن في الدنيا
والآخرة ما لا يعلمه إلا الله، فمنها: حرمان العلم، فإنّ العلم نور يقذفه الله في القلب،
والمعصية تطفئ ذلك النور.
ولمّا جلس الإمام الشافعي بين يدي مالك وقرأ عليه أعجبه ما رأى من وفور
فطنته وتوقُّد ذكائه وكمال فهْمه، فقال: إني أرى الله قد ألقى على قلبك نورًا فلا تطفئه
بظلمة المعصية"
“Kemaksiatan itu memiliki
pengaruh yang sangat jelek, sangat hina serta merusak hati dan anggota badan,
baik didunia maupun diakhirat dengan perkara yang hanya diketahui oleh Allah,
diantaranya; terhalanginya ilmu, karena ilmu adalah cahaya yang Allah tancapkan
kedalam hati, sedangkan maksiat memadamkannya.
Tatkala Imam Asy Syafi'i duduk
dihadapan Imam Malik dan membacakan hadits didepannya maka Imam Malik pun kagum
dengan kecerdasan dan kecerdikan serta kesempurnaan pemahamannya, sehingga
beliaupun berkata;
Sungguh aku melihat Allah
telah menancapkan kedalam hatimu cahaya, maka janganlah engkau padamkan dengan
kegelapan maksiat.” [Ad Da’u Wad Daa (76)].
• Seorang alim bagaikan
dokter.
Berkata Sufyan Ats Tsaury
-rahimahullah-:
العالم طبيب الدين والدرهم داء الدين فإذا اجتر الطبيب الداء إلى نفسه
فمتى يداوي غيره!!؟
“Seorang 'alim adalah dokter
dalam agama, sedangkan dirham (mata uang) adalah penyakit dalam agama, maka
jika seorang dokter telah terjangkit penyakit pada dirinya maka bagaimana lagi
dia mau mengobati selainnya!!?.” [Raudhatul 'Uqala' (27)].
• Ilmu dan amal.
Berkata Abu Darda' -radhiyallahu
'anhu-;
لا تكون عالما حتى تكون به عاملا
“Tidaklah menjadi seorang
'alim hingga ia beramal dengan ilmunya”. [Riwayat Ad Darimy (1/336)].
Berkata Sufyan Ibnu 'Uyainah
-rahimahullah-;
أجهل الناس من ترك ما يعلم، وأعلم الناس من عمل بما يعلم، وأفضل الناس
أخشعهم لله عز وجل
“Manusia yang paling bodoh
adalah yang meninggalkan sesuatu yang ia ketahui, dan manusia yang paling
berilmu adalah yang beramal dengan ilmunya, dan manusia yang paling utama
adalah yang paling khusyu' (merendah) kepada Allah azza wa jalla”. [Riwayat
Ad Darimy (1/355)].
Berkata Abu Darda' -radhiyallahu
'anhu-;
“Sungguh yang paling aku
takutkan ketika aku tegak berdiri untuk di hisab pada hari kiamat maka
dikatakan kepadaku:
فماذا عملت فيما علمت
Apa yang engkau amalkan dari
perkara yang engkau ketahui?!”. [Riwayat Ibnul Mubarak dalam Az Zuhud (39)].
• Ilmu & cinta.
Ibnul Qayyim -rahimahullah-:
كمال العبد بحسب هاتين القوتين : العِلم والحُب وأفضل العلم : العلم بالله
وأعلى الحُب: الحُب له
“Kesempurnaan seorang hamba
sesuai kadar dua kekuatan ini, yaitu; cinta dan ilmu, dan ilmu yang paling
utama adalah ilmu tentang Allah, dan setinggi-tinggi kecintaan adalah kecintaan
kepada-Nya.” [Al Fawa_id (1/53)]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar