Kalimat ini
ringkas, namun di dalamnya terdapat makna Islam yang sebenarnya, dengan
kalimat inilah terpisahkan antara Islam dan kekafiran serta antara penghambaan
dan kesyirikan.
Namun kebanyakan manusia tidak mengetahui makna
yang benar dari kalimat ini.
Lihatlah.., karena kalimat ini memiliki makna yang
sangat mendalam sehingga tidak cukup hanya sekedar dengan ucapan, oleh sebab
itulah Ketika Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam diutus oleh Allah subhanahu wa
ta’ala untuk mengajak manusia (Masyarakat Quraisy) Untuk mengucapkan kalimat ini sebagaimana dalam
sebuah Hadist Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ
قُوْلُوْا لَا إِلَهَ إلَّا اللَّهُ تُفْلِحُوْا
“Wahai sekalian manusia Ucapkanlah La Ilaaha
Illallah maka kalian akan beruntung”. [HR. Ahmad ( 16023) dan Ibnu Hibban
(6562)].
Ketika orang-orang Quraisy diperintahkan untuk
mengucapkan kalimat ini, maka merekapun menolak dan mereka mengatakan:
أَجَعَلَ الْآلِهَةَ
إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ
"Apakah si Muhammad ingin menjadikan
sembahan- sembahan itu menjadi sembahan yang satu saja? Sesungguhnya ini
benar-benar suatu hal yang sangat Aneh." [QS. Shaad: 5].
Ini menunjukkan bahwasanya orang-orang Quraisy
mengetahui bahwasanya pada kalimat tauhid ini memiliki makna yang mendalam
bukan sekedar hanya diucapkan, seandainya hanya cukup untuk diucapkan maka apa
sulitnya bagi mereka mengucapkannya semata, tetapi karena di dalamnya terdapat
konsekuensi ketika mengucapkannya yaitu menjadikan sembahan hanya satu maka
mereka pun menolak dengan penentangan dan permusuhan kepada Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam.
Sungguh Alquran juga menyebutkan bahwasanya orang-orang musyrik dari kalangan Quraisy
mereka juga meyakini bahwasanya Allah yang memberi rezeki kepada mereka, yang
menguasai mereka dan mengatur mereka sebagaimana firman Allah:
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ
مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ
الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ
ۚ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ
“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki
kepadamu dari langit dan dari bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan)
pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari
yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur
segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mangapa
kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” [QS. Yunus: 31].
Namun bersamaan dengan hal tersebut pengetahuan
mereka bahwasanya Allah yang mencipta, mengatur dan memberi rezeki kepada
mereka, tidaklah menjadikan mereka masuk kedalam Islam, hal tersebut karena
mereka belum merealisasikan dari makna La Ilaaha Illallâh yang sebenarnya.
Dan diantara perkara yang menunjukkan pentingnya
mengetahui (mengilmui) makna kalimat
tauhid ini adalah bahwasanya tidaklah bermanfaat ucapan seseorang dengan
kalimat ini ( Laa Ilaaha Illallah ) kecuali jika ia mengetahui makna yang
sebenarnya.
Sebagaimana Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ
لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ
“Maka ketahuilah (ilmuilah) bahwasanya tidak ada yang berhak disembah
selain Allah dan minta ampunanlah terhadap dosa- dosa engkau." [QS.Muhammad:
19].
Maka kalimat tauhid ini, akan bermanfaat ketika
seseorang mengetahui makna yang sebenarnya sehingga inilah yang akan menuntun
dan memasukkan dia ke dalam surga.
Dari Utsman bin Affan radhiallahu anhu bahwasanya
Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:
مَنْ مَاتَ وهو يعلَم
أنه لا إله الّا اللّه دخَلَ الجنةَ
"Barang Siapa yang meninggal dalam keadaan
dia mengetahui (mengilmui) bahwasanya tidak ada sembahan yang berhak disembah
kecuali Allah maka dia masuk surga." [HR. Muslim (145)].
Mari kita menyimak secara ringkas Penjelasan
makna kalimat tauhid (Laa Ilaaha
Illalah) ini.
Kata (لا) Laa (tidak) dalam bahasa arab disebut Laa Nafiyah
Liljinsi yaitu huruf lam yang berfungsi meniadakan keberadaan seluruh jenis
kata yang setelahnya,
contoh:
لَا رَجُلَ فِيْ
الدَّارِ
"Tidak ada seorang lelaki pun di
rumah".
Menunjukkan penafian (peniadaan) siapapun juga,
yaitu tak ada seorang lelakipun di rumah, baik lelaki dewasa, atau kecil, sehat
maupun sakit.
Sehingga Laa
dalam kalimat tauhid (Laa Ilaaha Illallohu) bermakna meniadakan semua jenis
Ilaah (sembahan) dengan bentuk apapun dan siapapun juga .
Kata Ilaah (إله) merupakan
bentuk masdar dari kata:
ألِهَ ـ يَأْلَهُ
Yang artinya beribadah.
Berarti Ilaahun ( إلٰه) isim masdar yang bermakna maf'ul (objek)
sehingga artinya sesembahan (yang di ibadah).
Maka jika kita gabungkan kata Laa (لَا) dengan Ilaah ( إلٰٰه) akan
bermakna:
“Tidak ada satupun sesembahan dalam bentuk
apapun juga”.
Kata Illa ( إلّا) disebut huruf istitsna' ( pengecualian) yaitu huruf yang datang untuk mengeluarkan
kata yang terletak setelah Illa dari hukum yang dinafikan (yang ditiadakan)
oleh Laa, sebagai contoh:
لَا رَجُلَ فِيْ
الدَّارِ إلّا مُحَمّد
"Tidak ada seorang lelaki pun di rumah
kecuali Muhammad".
Menunjukkan tak ada seorangpun juga di rumah namun
Muhammad ada di rumah tersebut.
Yaitu penetapan bahwa Muhammad adalah satu-satunya
lelaki yang ada didalam rumah tersebut.
Kata Allah ( اللّه) menurut
sebagian ahli bahasa bahwa nama Allah berasal dari kata Al Ilaah, Hamzah nya di
hilangkan untuk mempermudah bacaan ,lalu huruf Laam yang pertama diidghamkan
pada huruf Laam yang kedua sehingga menjadi satu Laam yang ditasydid lalu Laam yang kedua dibaca tebal =
Alloh.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta'ala mengatakan:
اللّهُ وَحْدَهُ
هو المَعْبُوْدُ المَأْلُوْهُ الّذي لَا يَسْتَحِقُّ العِِبَادَةُ سِوَاه
"Allah Semata adalah Yang diibadahi, yang di sembah, yang tidak
ada sesuatu pun yang berhak diibadahi selain-Nya." [Madarijus Salikin
(3/144)].
Dari keterangan diatas maka para ulama menyebutkan
bahwasanya di dalam kalimat tauhid (Laa Ilaaha Illallohu) terkandung 2 rukun.
Bersambung...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar