Sabtu, 27 Mei 2017

HUKUM-HUKUM SEPUTAR PUASA RAMADHAN (Edisi 05)

HUKUM-HUKUM SEPUTAR PUASA RAMADHAN (Edisi 05)

Oleh : Ustadz Fauzan Abu Muhammad Al-Kutawy Hafidzahullâh


SAHUR.

Diantara perkara yang disyariatkan ketika seseorang hendak melakukan puasa adalah  bersahur dimalam hari.

Banyak dalil-dalil yang menunjukkan tentang disyariatkannya perkara tersebut, diantaranya :

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ta'ala anhu berkata, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi Wassalam bersabda :

تَسَحَّرُوا ؛ فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً 

"Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya pada sahur terdapat  keberkahan". [Muttafaqun alaihi]

Dari Al  Miqdam radhiyallahu ta'ala anhu berkata, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi Wassalam bersabda :

عَلَيْكُمْ بِغَدَاءِ السُّحورِ ؛ فَإِنَّهُ هُوَ الغَدَاءُ الْمُبَارَكُ

"Hendaklah kalian makan sahur, karena itu adalah makanan yang berberkah". [HR. An Nasâi (4/146)]

Dari Ammar bin 'Ash radhiyallahu ta'ala anhu berkata, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi Wassalam bersabda :

فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ 

"Pembeda  antara puasa kita dengan puasa ahli kitab adalah dengan makan sahur". [HR. muslim (1096)].

Dan para ulama telah bersepakat bahwasanya sahur adalah perkara yang disunnahkan.

Berkata Ibnul Mundzir rahimahullah :

أَجْمَعَ عَلَى أَنَّ السَّحُوْرَ مَنْدُوْبٌ  إِِلَيْهِ مُسْتَحَبٌّ،  وَ لَا إِثْمَ عَلَى مَنْ تَرَكَهُ

"Mereka (para ulama) telah bersepakat bahwasanya sahur adalah perkara yang sunnah dan bahwasanya tidak ada dosa bagi seorangyang meninggalkannya." [Al Isyraf (3/120)].

Berkata Ibnu Qudamah rahimahullah :

لَا نَعْلَمُ بَيْنَ العُلَمَاءِ خِلَافَ اسْتِحْبِابِهِ

"Kami tidak mengetahui ada perbedaan pendapat dikalangan para ulama tentang disunahkannya perkara tersebut." [Al Mughni  (3/169)].

Dan sahur adalah merupakan kekhususan umat Islam sebagaimana hal tersebut ditunjukkan dalam hadits Abdullah Ibnu 'Amr radhiyallahu ta'ala anhu yang telah berlalu.

Berkata  Imam Al Qurthubi rahimahullahu :

هَذَ الحَدِيْثُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ السَّحُوْرَ مِنْ خَصَائِصِ هَذِهِ أَمَّةِِ وَمِمَّا خَفّفَ بِهِ عَنْهُمْ

"Hadits ini menunjukkan bahwasanya  sahur adalah merupakan kekhususan umat ini dan bahwasanya hal tersebut adalah  perkara yang memberikan keringanan kepada mereka".

Dan diantara faedah sahur adalah untuk meringankan dan memudahkan orang-orang yang berpuasa yang hal tersebut merupakan bentuk dari bentuk-bentuk keberkahan yang disebutkan oleh Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa ssalam dalam sabdanya :

تَسَحَّرُوا ؛ فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً

"Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya pada sahur terdapat  keberkahan". [Muttafaqun alaih].

Berkata Ibnu Daqiqil 'Ied rahimahullahu :

"Dan keberkahan tersebut bisa kembali kepada perkara-perkara ukhrawiy (akhirat & agama), karena sesungguhnya ketika seseorang menegakkan sunnah maka mengharuskan baginya untuk mendapatkan pahala dan tambahan pahala tersebut, dan memungkinkan pula keberkahan tersebut kembali kepada perkara dunia berupa kekuatan badan untuk bisa berpuasa  dan kemudahan tanpa harus melalui kesulitan." [Al Ihkam (2/208)].

Dan seorang telah dikatakan bersahur ketika dia telah mengkonsumsi makanan ataupun minuman  walaupun hanya sedikit.

Dari Ibnu Umar radliyallaahu ta'ala anhumâ, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda :

تسحَّرُوا ولو بجَرْعَةٍ من ماءٍ 

"Bersahurlah kalian walaupun dengan seteguk air". [HR. Ibnu Hibban].

Hal ini menunjukkan bahwasanya sesedikit apapun atau sekecil apapun ketika seorang telah meminum atau memakan sesuatu tersebut, maka dia telah dikatakan telah melakukan bersahur.

Namun di sana ada pembahasan para ulama tentang makanan yang disunnahkan untuk dikonsumsi didalam bersahur diantaranya adalah kurma.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ta'ala anhu berkata, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wassalam bersabda :

 نِعمَ سَحُوْرُ المُؤْمِنِ التَّمرُ

"Sebaik-baik sahurnya seorang yang  beriman adalah kurma". [HR. Abu Daud dan  Ibnu Hibban didalam shahihnya].

Sebagian ulama menjelaskan bahwa jika kita tidak mendapatkan kurma maka bisa menggantinya dengan perkara yang serupa dengan kurma dari sisi sifat yaitu manis. Maka para ulama menyebutkan tentang disunnahkannya makan sahur dengan makanan yang manis.

Namun hal ini tidak menunjukkan pembatasan, karena apapun yang  dikonsumsi seorang  untuk bersahur, maka hal tersebut telah menjadikan dia mendapatkan keutamaan bersahur.

Berkata Ibnu Qudamah rahimahullah :

وَكُلُّ مَا حَصَلَ مِنْ أكلٍ أو  شربٍ حَصَلَ به فضيلة السحور

"Apapun yang didapatkan berupa makanan atau minuman maka telah dianggap mendapatkan keutamaan sahur." [Al Mughni  (3/170)].

Dari penjelasan diatas, kita bisa mengambil kesimpulan  bahwasannya didalam sahur terdapat berbagai manfaat & faidah di antaranya :

 1. Sahur adalah merupakan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
2. Didalam sahur terdapat keberkahan.
3. Sahur adalah perkara yang membedakan antara umat Islam dengan umat  - umat sebelumnya.
4. Sahur akan menyebabkan kuatnya badan, yg akan  memudahkan seseorang di dalam berpuasa.
5. Seorang yang bersahur, akan mengingatkan dia dengan keutamaan waktu yang ia bersahur didalamnya sehingga ia akan memperbanyak doa dan ibadah didalamnya.
6. Orang-orang yang bersahur, akan mendapatkan shalawat dari  Allah & para malaikat-Nya.

Dari Abu Sa'id Al Khudri radhiyallahu ta'ala anhu, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wassalam bersabda :

السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ، فَلَا  تَدَعُوهُ، وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ  عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ

"Sahur itu makanannya adalah  keberkahan, maka janganlah kalian meninggalkannya, walaupun dengan meneguk seteguk air, karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang sahur". [HR. Imam Ahmad]

Dan diantara perkara disunnahkan didalam sahur adalah untuk mengakhirkan  waktu bersahur.

Dan hal ini adalah perkara yang disepakati dan tidak  terdapat perselisihan pendapat  di antara para ulama tentang disunnahkannya hal tersebut selama tidak  dikhawatirkan terbitnya fajar shubuh.

Diantara dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah hadits Anas bin Malik dari Zaid bin tsabit radhiyallaahu ta'ala anhumâ :

تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – ثُمَّ قَامَ إلَى الصَّلاةِ قَالَ أَنَسٌ قُلْتُ لِزَيْدٍ كَمْ كَانَ بَيْنَ الأَذَانِ وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً

“Kami makan sahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian beliau berdiri untuk shalat. Anas bertanya kepada Zaid: “berapa lama jarak antara adzan (shubuh) dengan makan sahur ? Maka Zaid menjawab: “seukuran membaca  50 ayat”. [Muttafaqun alaihi]

Hal ini menunjukkan bahwasanya waktu sahur tersebut adalah ringkas dan di akhirkan sehingga mendekati adzan subuh.

Dan ini pula yang ditunjukkan dalam hadits Ibnu Umar  radliyallaahu ta'ala anhumâ, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wassalam bersabda :

 إِنَّ بِلَالًا يُأذِّنُ بِلَيْلٍ فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُأذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ

"Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan di malam hari, maka makan & minumlah kalian hingga  Ibnu Ummi Maktum  itu  adzan". [Muttafaqun 'alaih].

Hadits ini menunjukkan jarak yang sangat pendek antara makan sahur dan adzan subuh.

Adapun akhir waktu sahur adalah ketika masuk waktu  shubuh atau terbitnya fajar shodiq.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

"Dan makan dan minumlah kalian hingga nampak bagi kalian benang putih dari benang hitam dari  fajar." [QS. Al Baqarah: 187]

Dan juga hadist yang telah berlalu :

إِنَّ بِلَالًا يُأذِّنُ بِلَيْلٍ فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُأذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ

"Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan di malam hari, maka makan & minumlah kalian hingga  Ibnu Ummi Maktum  itu  adzan".

Maka ketika telah dikumandangkan adzan atau telah masuk waktu  shalat subuh , wajib bagi seseorang untuk menahan makan dan minum dalam artian dia telah memulai puasanya.

Oleh sebab itu jika seseorang telah memakan sesuatu kemudian dia mendengar adzan yang bertanda masuknya  waktu shalat , maka dia wajib mengeluarkan apa yang ada di dalam mulutnya tersebut.

Berkata Imam Nawawi rahimahullah:

مَنْ طَلَعَ الفَجْرُ وَفِيْ فِيْهِ طَعَامٌ فَلْيَفظه وَيَتِمُّ صَوْمُهُ فَإِنِ ابتلعه بَعْدَ عِلْمِهِ بِالفَجْرِ  بَطلَ صومُهُ وَهذ لا خِلافَ فِيْهِ

"Barangsiapa yang ketika muncul fajar dan  di mulutnya ada makanan, maka hendaklah dia keluarkan  dan dia  menyempurnakan puasanya, jika dia menelannya setelah dia tahu  fajar telah  muncul, maka telah batal puasanya, dan perkara ini tidak ada perselisihan  pendapat pada hal tersebut." [Al Majmu' ( 6/333)].

Namun yang benar dalam perkara ini adalah terdapat perselisihan pendapat dikalangan para ulama,  adapun ucapan Imam An Nawawiy tentang tidak ada perselisihan pendapat dalam hal ini maka yang diinginkan dengannya adalah dalam madzhab beliau yaitu madzhab Asy Syafiiyyah.
Wallohu a'lam.

Karena ada sekelompok ulama yang berpendapat bahwa jika bejana telah ditangan dan terdengar adzan maka hendaklah ia menyelesaikan kebutuhannya. Walaupun ini adalah pendapat yang lemah.

Adapun bagi orang yang ragu, apakah telah  muncul fajar atau belum, maka yang benar dalam masalah ini adalah seseorang itu hendaklah tetap berada di atas hal yang meyakinkan (jelas), yaitu  kapan belum nampak fajar tersebut, maka ia tetap teranggap  boleh untuk makan dan minum atau bersahur.

Berkata Ibnu Taimiyah rahimahullah:

الشاك  في طلوع الفجر يجوز له الأكل والشرب والجِمَاع بالاتفاق ولا قضاء عليه إذ استمر الشك

"Seorang yang ragu tentang munculnya fajar, boleh baginya makan, minum dan jima' sesuai dengan kesepakatan pada ulama dan tidak ada qhada' baginya  jika dia terus menerus dalam keraguan tersebut." [Majmu' Al Fatawa (25/260)]

Diantara dalil perkara ini adalah Firman Allah subhanahu wa ta'ala :

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

"Dan makan dan minumlah  hingga jelas  bagi kalian benang putih dari benang hitam dari  fajar."

Kalimat "hingga jelas" menunjukkan asalnya tetap berada pada posisi malam selama belum muncul perkata  yang  meyakinkan yaitu terangnya siang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar