Jumat, 13 April 2018

CARA MENAFSIRKAN AL-QURAN (edisi 01)

Oleh : Al Ustadz Abu Muhammad Fauzan Al Kutawy hafizhahullah


Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyebutkan sumber penafsiran Al-Quran ada empat :

1. Tafsir Alquran dengan Alquran.
2. Tafsir Alquran dengan hadits Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam.
3. Tafsir Alquran dengan ucapan para Sahabat.
4. Tafsir Alquran dengan ucapan para Tabi'in.

[Muqaddimah Ushul At Tafsir (93)]

1. Tafsir Al-Quran dengan Al-Quran.

Adalah cara tafsir yang paling utama dan paling agung, karena Alquran adalah Kalamulloh (Firman Allah), maka tentu Allah ta'ala lebih mengetahui maksud dari firman-Nya sehingga penjelasan langsung dari Allah adalah perkara yang paling agung dan penuh dengan kebenaran.

Dan diantara bentuk tafsir Al-Quran dengan Al-Quran ini kadang datang dengan konteks urutan ayat secara langsung, seperti firman-Nya :

والسماء والطارق ١
وما أدراك ما الطارق ٢
النجم الثاقب ٣

"Demi langit dan demi yang datang dimalam hari (1) Dan apakah engkau tahu apakah yang datang pada malam hari itu? (2) Itulah bintang yang bersinar tajam (3)." [QS. Ath Thariq: 1-3]

Allah ta'ala menyebutkan tafsir Ath Thariq dalam kelanjutan ayat secara berurut dan secara langsung.

Diantara bentuk tafsir Al-Quran dengan Al-Quran adalah disebutkannya makna ayat tersebut di ayat lainnya yang terdapat dalam Alquran.

Contohnya seperti firman Allah ta'ala:

ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﻠْﺒِﺴُﻮﺍ ﺇﻳﻤَﺎﻧَﻬُﻢ ﺑِﻈُﻠْﻢٍ ﺃُﻭْﻟَﺌِﻚَ ﻟَﻬُﻢُ ﺍﻷَﻣْﻦُ ﻭَﻫُﻢ ﻣُّﻬْﺘَﺪُﻭﻥَ

"Dan orang-orang yang beriman serta tidak mencampur adukkan keimanan mereka dengan kesyirikan maka mereka akan mendapatkan keamanan serta mendapatkan petunjuk." [QS. Al An'am: 82]

Disebutkan dalam Shahihain dari hadits Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu bahwa tatkala ayat ini turun maka sebagian para sahabat merasa berat dan berkata :

"Wahai Rasulullah, siapakah diantara kami yang tidak pernah mendzalimi dirinya."

Maka Beliau bersabda:

ﻟﻴﺲ ﻛﻤﺎ ﺗﻘﻮﻟﻮﻥ،  ﻟﻢ ﻳﻠﺒﺴﻮﺍ ﺇﻳﻤﺎﻧﻬﻢ ﺑﻈﻠﻢ : ﺑﺸﺮﻙ، ﺃﻭ ﻟﻢ ﺗﺴﻤﻌﻮﺍ ﺇﻟﻰ ﻗﻮﻝ ﻟﻘﻤﺎﻥ ﻻﺑﻨﻪ :  ﻳَﺎ ﺑُﻨَﻲَّ ﻻ ﺗُﺸْﺮِﻙْ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﺇﻥَّ ﺍﻟﺸِّﺮْﻙَ ﻟَﻈُﻠْﻢٌ ﻋَﻈِﻴﻢٌ  ‏[ ﻟﻘﻤﺎﻥ : 13 ‏]

"Bukanlah seperti yang kalian katakan tadi, makna "tidak mencampur adukkan dengan kedzaliman" adalah kesyirikan, tidakkah kalian mendengarkan ucapan Lukman kepada anaknya :

"Wahai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah (kesyirikan), karena sesungguhnya kesyirikan adalah kedzaliman yang sangat besar."

Dalam keterangan ini menjelaskan bahwa makna kedzaliman dalam surah Al An'am ditafsirkan dengan ayat dalam surah Luqman. Wallohu a'lam.

Para 'ulama salaf sangat memiliki perhatian luar biasa di dalam fan (bidang) ini, yaitu menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran, dan diantara yang paling terkenal dalam bidang ini adalah Abdurrahman bin Zaid bin Aslam rahimahullah.

Wallahu a'lam.

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar