Allah subhanahu wa ta'ala menyebutkan didalam
Al-Quran sifat Nabi-Nya dan Khalil (kekasih)-Nya yang merupakan Abul Anbiya'
(bapak para Nabi) dan pimpinan ahlu tauhid dalam firman-Nya:
ﺇﻥ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ﻛﺎﻥ ﺃﻣﺔ
ﻗﺎﻧﺘﺎ ﻟﻠﻪ ﺣﻨﻴﻔﺎ ﻭﻟﻢ ﻳﻚ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺸﺮﻛﻴﻦ ﺷﺎﻛﺮﺍ ﻷﻧﻌﻤﻪ
"Sesungguhnya Ibrahim adalah ummat yang
qunut (tegak) kepada Allah yang lurus dan bukan termasuk orang-orang yang
berbuat kesyirikan, ia bersyukur terhadap nikmat-nikmat-Nya". [QS. An
Nahl: 120].
Dalam ayat ini terdapat penyebutan sifat
orang-orang yang bertauhid diantaranya:
1. Ummah yang bermakna;
ﻗﺪﻭﺓ ﻭﺇﻣﺎﻣﺎ ﻭﻣﻌﻠﻤﺎ
ﻟﻠﺨﻴﺮ
(Teladan, pimpinan & pengajar kepada
kebaikan).
Dan jenjang ini hanya didapatkan ketika seorang
memiliki keyakinan yang kuat serta kesabaran yang tegar.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
ﻭَﺟَﻌَﻠْﻨَﺎ ﻣِﻨْﻬُﻢْ
ﺃَﺋِﻤَّﺔً ﻳَﻬْﺪُﻭﻥَ ﺑِﺄَﻣْﺮِﻧَﺎ ﻟَﻤَّﺎ ﺻَﺒَﺮُﻭﺍ ۖ ﻭَﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﺑِﺂﻳَﺎﺗِﻨَﺎ ﻳُﻮﻗِﻨُﻮﻥَ
"Dan Kami jadikan diantara mereka
pimpinan-pimpinan yang memberikan petunjuk terhadap urusan Kami tatkala mereka
bersabar dan yakin terhadap ayat-ayat Kami." [QS. As Sajdah: 24]
2. Qunut yang maknanya adalah:
دوام الطاعة
(Terus menerus melakukan ketaatan)
Menjadikan ketaatan sebagai konsep dalam kehidupan
sehari-harinya dan menjauhi bentuk kemaksiatan kepada Allah subhanahu wa
ta'ala.
3. Hanif yakni dalam arti:
ﻣﻘﺒﻼ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ
ﻣﻌﺮﺿﺎ ﻋﻦ ﻛﻞ ﻣﺎﺳﻮﺍﻩ
(Menghadapkan diri kepada Allah ta'ala dan
berpaling dari segala hal selainnya)
Sebagaimana ucapan Nabi Ibrahim 'alaihis salaam
yang Allah subhanahu wa ta'ala sebutkan dalam Alquran:
ﺇِﻧِّﻲ ﻭَﺟَّﻬْﺖُ
ﻭَﺟْﻬِﻲَ ﻟِﻠَّﺬِﻱ ﻓَﻄَﺮَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻷَﺭْﺽَ ﺣَﻨِﻴﻔًﺎ ﻭَﻣَﺎ ﺃَﻧَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﺸْﺮِﻛِﻴﻦَ
"Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku
kepada Dzat yang mengatur langit dan bumi dengan menghadap kepada-Nya, dan
bukanlah aku termasuk orang-orang yang berbuat kesyirikan. " [QS. Al
An'am: 79].
4. Bukan termasuk orang yang melakukan
kesyirikan yaitu baik dengan hati, lisan
maupun perbuatan.
Ini adalah ucapan penegasan untuk berlepas diri
dari seluruh sesembahan dan peribadahan kepada selain Allah.
5. Bersyukur terhadap nikmat-Nya, yaitu dengan:
- Mengakui kenikmatan tersebut hanya dari Allah dan
menyandarkannya hanya kepada Allah.
- Memuji Allah dengan lisannya terhadap karunia dan
nikmat tersebut.
- Mempergunakan kenikmatan tersebut dalam ketaatan
kepada Allah.
••• ═════ ❁✿❁ ═════ •••

Tidak ada komentar:
Posting Komentar